10 Tips Membentuk Rencana Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja adalah aspek yang begitu penting, bahkan juga mesti jadi prioritas dalam menggerakkan pekerjaan. Ini berlaku terlebih pada karyawan yang miliki pekerjaan berisiko tinggi, seperti di bidang pertambangan, konstruksi, manufaktur, dan semacamnya.

 

 

Oleh karenanya, perusahaan butuh untuk mempunyai gagasan yang mumpuni tentang keselamatan kerja. Di bawah ini yaitu 10 langkah dalam membuat program keselamatan kerja, seperti diambil dari zmags.

 

Image result for 10 Tips Membentuk Rencana Keselamatan Kerja

 

 

1. Mengerti Implikasi Regulasi

 

Perusahaan mesti tahu regulasi paling baru dari pemerintah, dan mengerti implikasinya pada perusahaan, yang umumnya bakalan tidak sama. Untuk meyakinkan kalau ketentuan perusahaan sesuai dengan UU yang ada, maka perusahaan bisa memakai layanan konsultan safety.

 

2. Assessment

 

Kerjakan assessment tentang setiap tempat kerja. Identifikasi beberapa lokasi mana saja yang riskan pada kecelakaan kerja, lalu identifikasi juga beberapa ruang mana saja yang berisiko untuk berlangsung kecelakaan. Setelah itu, mencari juga sebagian argumen apa sajakah yang bisa menyebabkan kecelakaan dan resiko kecelakaan itu. Prioritaskan tempat yang miliki resiko paling besar.

 

3. Customized Plan

 

Sesudah mengidentifikasi dan mengukur resiko, lalu waktunya untuk membuat safety rencana. Safety rencana ini tidak sama untuk setiap tempat, sarana, gedung, peralatan, sistem, ataupun staf. Buat safety rencana yang customized, namun masih tetap sesuai sama standard regulasi keselamatan kerja. Lalu menjadikan setiap orang dalam organisasi memiliki peran dan tanggung jawab dalam safety rencana itu. Hal semacam ini penting agar semuanya karyawan sadar akan pentingnya keselamatan kerja.

 

4. Written

 

Sesudah membuat gagasan yang solid, maka dokumentasikan dengan cara tercatat tentang program-program safety apa sajakah yang akan dikerjakan. Semua gagasan mesti ditulis, dari mulai gagasan kontrol, gagasan darurat, gagasan komunikasi, dan yang lain. Hal semacam ini butuh agar gagasan terang, tak ada yang simpang siur.

 

5. Training

 

Sesudah semuanya gagasan dan prosedur safety sudah didokumentasikan dengan baik, maka setelah itu yaitu saat untuk membawanya ke dunia riil. Kerjakan training agar karyawan punya kebiasaan dan tak kagok dalam menggerakkan safety rencana. Tetapi janganlah kerjakan training sesekali saja, tetapi mesti dengan cara periodik, atau karyawan bakalan lupa. Kerapkali perusahaan hanya sesekali mengadakan training, hingga saat safety rencana dibutuhkan, lalu implementasinya jadi tak lancar.

 

6. Insentif

 

Untuk berikan motivasi karyawan agar ingin mematuhi safety rencana, maka sertakan safety rencana sebagai penilaian kemampuan, lalu berikanlah insentif spesial. Bagi karyawan yang ingin mengimplementasikan safety rencana dalam pekerjaannya keseharian, pasti penilaian kemampuannya tambah baik, dan ada insentif penambahan karenanya. Tanpa ada insentif, maka karyawan bakalan malas untuk mengambil ketentuan baru ini.

 

7. Sederhana

 

Buat safety rencana yang simpel, hingga gampang dipahami oleh semua karyawan. Ini penting agar karyawan bisa menerapkannya dalam pekerjaan keseharian. Jika kompleks dan susah dipahami, siapa yang ingin mengerjakannya? Lalu taruh tentang dokumentasi safety rencana ini dalam tempat yang gampang dijangkau oleh semua karyawan. Berikanlah mereka akses segera pada dokumentasi ini. Mudahnya, taruh dokumentasi manual itu dengan cara on-line.

 

8. System Pelaporan Jelas

 

Buat system pelaporan yang pasti tentang insiden ditempat kerja. Hingga, semuanya insiden bisa terdaftar dengan baik dan segera diakukan selanjutnya. Buat system yang simpel dan gampang dipakai, juga gampang dibuka oleh semua karyawan.

 

9. Hotline

 

Buat safety hotline yang senantiasa bersedia jadi tempat karyawan untuk ajukan pertanyaan berkaitan safety, untuk lalu peroleh tanggapan dengan cepat. Hingga, karyawan yang masihlah bingung tentang prosedur yang perlu dikerjakannya, atau miliki pertanyaan tertentu bisa segera menghubungi hotline.

 

10. Partisipasi Karyawan

 

Baik dalam meningkatkan safety rencana ataupun mengimplementasikannya, sertakan karyawan. Dengan hal tersebut, karyawan juga ikut terasa mempunyai program itu, tidak cuma harus mengerjakannya. Hanya dengan sense of belonging itu, hasil yang memuaskan bisa diraih. Menggunakan APD salah satu partisipasi karyawan, misalnya rutin menggunakan sepatu safety jika ingin ke pabrik atau ke langan dll.

 

 

Di Indonesia, permasalahan keselamatan kerja ditata dalam UU No. 1/1970, regulasi yang diterbitkan sekitaran empat dasawarsa lantas. Ada perdabatan tentang apakah kerangka ketentuan itu cukup mencukupi membuat perlindungan pekerja. ILO (International Labour Organization) mengusulkan supaya UU No. 1/1970 ini direvisi dan sesuai dengan perubahan paling akhir, hingga sesuai sama bebrapa ketetapan dalam Konvensi ILO No. 155/1980 mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 

Write a comment

Comments: 0